Marsigit Philosophy
Dalam sebuah pembelajaran, semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran selalu mengharapkan agar tujuan pembelajaran senantiasa tercapai. Sebagai contoh dalam pembelajaran di kelas, pendidik dan peserta didik senantiasa mengharapkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Namun, dalam pelaksanaan dan penilaian pembelajaran, dan setelah penilaian hasil belajar biasanya ditemukan beberapa permasalahan.
Dalam bagian ini akan diidentifikasi beberapa temuan terkait persoalan pembelajaran Fisika baik dari pengalaman penulis maupun dari kajian literatur penelitian sebelumnya yang relevan. Secara umum, persoalan-persoalan tersebut sebagai berikut.
- Masih banyak ditemukan peserta didik mengalami kesulitan konseptual dalam pembelajaran Fisika. Tinjauan filsafat kesulitan yang terjadi karena kecederungan pemahaman siswa berfokus pada konten semata tidak lebih jauh pada kajian ontologi, epistemologi dan aksiologi materi fisika. Artinya seandaianya siswa difasilitasi untuk mengetahui hakikat, cara memperoleh dan manfaat dari pengetahuan yang diajarkan diharapkan akan meminimalisir kesulitan konseptual yang dihadapinya. Selain berdasarkan pengalaman penulis (dipresentasikan dan dipublikasikan melalui seminar nasional dan internasional), hal ini juga sejalan dengan beberapa hasil penelitian. Tinjuan filsafat, kesulitan dapat dimaknai sebagai kendala seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu (Marsigit, 2014)
- Guru jarang melakukan diagnosa kemampuan awal dan diagnosa kesulitan konseptual peserta didik. Kemampuan awal dan kesulitan peserta didik dalam memahami konsep sangat diperlukan bagi guru untuk menentukan perlakuan (treatment) yang tepat sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
- Perbedaan karakteristik peserta didik yang mengharuskan guru memiliki keterampilan untuk memfasilitasi/menjadi fasilitator untuk semua peserta didik dalam pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam banyak hal, yang lebh nampak dalam kemampuan berpikir. Tentu saja akan mempengaruhi tindakannya selama ataupun setelah pembelajaran. Salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki pendidik adalah memahami karakteristik peserta didik. Filsafat hadir dalam ranah ini, sebagai dasar seseorang dalam berpikir maupun bertindak. Filsafat menghadirkan perspektif dan sudut pandang yang luas dalam menyikapi perbedaan ini.
- Sering ditemukan motivasi belajar siswa rendah terhadap pembelajaran Fisika. Kecenderungan siswa tidak memiliki motivasi yang kuat dalam pembelajaran fisika karena tidak memahami manfaat dari apa yang dipelajarinya (kajian aksiologi), sehingga mempunyai anggapan bahwa materi yang dipelajari tidak penting. Atau karena mereka menganggap materi dalam fisika didominasi oleh rumus-rumus dan hafalan yang langsung saja didefiniskan, bukan diturunkan dari yang sifatnya empirisme. Secara umum, memang ada beberapa konsep dalam fisika yang didefiniskan, tetapi ini sedikit. Dominasi hukum dalam fisika dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi hakikat (ontologi), cara memperolehnya (epistemologi) maupun dari segi manfaat (aksiologi).
- Siswa mengalami kesulitan untuk konsep dasar atau materi prasyarat yang seharusnya sudah dikuasai. Hal lain, yang sering ditemui dalam pembelajaran di kelas adalah kemampuan awal/prasyarat siswa yang kurang. Kesulitan ini kecenderungan menjadi berdampak terus menerus. Sebagai contoh, dalam pembelajaran fisika di SMA kadang masih ditemukan peserta didik yang mengalami kesulitan/lambat dalam mengopreasikan bilangan secara aljabar biasa. Contoh lain, dalam fisika SMA kelas XI dan XII dominasi materi fisika yang memerlukan perhitungan melibatkan operasi vektor, tetapi banyak ditemui peserta didik yang belum bisa mengoperasikan besaran fisika secara vektor, padahal materi operasi vektor sudah peserta didik dapatkan sewaktu kelas X.
- Kebiasaan belajar peserta didik yang kurang baik. Fakta di lapangan ditemukan kecenderungan peserta didik mempersiapkan diri dan fokus dalam belajar ketika akan dievaluasi atau dites. Tentu saja ini merupakan hal yang kurang baik. Aliran filsafat yang mempengaruhi adalah behaviorisme. Idealnya peserta didik senantiasa belajar dan mempersiapkan pembelajaran bukan hanya menjelang tes.
- Kegiatan refleksi jarang dilakukan baik oleh guru maupun peserta didik. Kadang guru tidak sesegera melakukan refleksi dan evaluasi pembelajaran baik dari segi proses maupun hasil, terlalu fokus dalam ketuntasan penyampaian materi yang diajarkan. Kegiatan refleksi hendaknya dilakukan pada setiap pembelajaran, bukan hanya fokus pada saat evaluasi akhir saja. Sehingga kekurangan yang ada dapat diperbaiki sedini mungkin. Hasil Temuan lain menunjukan bahwa peserta didik juga jarang mengevaluasi atau melakukan refleksi. Padahal Hal penting yang mendukung tercapainya hasil belajar yang optimal adalah selalu melakukan refleksi dan evaluasi diri. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kekurangan yang ada sehingga bisa diperbaiki terus menerus, baik oleh pendidik (guru) maupun oleh peserta didik.
- Peserta didik selalu merasa tidak siap jika dilakukan penilaian. Ini terjadi karena peserta didik tidak/kurang memiliki kompetensi yang akan diujikan yang berujung pada kurangnya rasa percaya diri ketika di tes.
- Kurangnya kemampuan guru dalam menggunakan alat-alat peraga atau prakitikum (KIT) berdampak pada dominasi metode ekspositori (ceramah) dalam pembelajaran. Tinjauan filsafat, ini sangat erat kaitannya dengan aliran filsafat empirisisme. Dominasi materi fisika berlandasakan aliran fisafat ini. Hal ini terjadi karena normatif hukum dalam fisika ditemukan melalui pengalaman atau praktek langsung yang diikuti dengan kajian teoritis atau rasionalisme para tokoh penemunya.
- Dominasi pembelajaran tidak mengarah pada tuntutan keterampilan tingkat tinggi (HOTS). Kecenderungan pembelajaran yang terjadi dominasi pada tuntutan dan pengembangan keterampilan berpikir tingkat rendah dan sedang. Aliran filsafat yang mempengaruhi adalah rasionalisme, skpetisisme, saintifisme, empirisisme.
- Interakasi kelas seperti diskusi dan sebagainya cenderung masif. Hal ini terjadi karena pembelajaran yang dominasi ceramah dan kadang cenderung hanya sebatas penyamapaian materi (repositori) sehingga siswa kurang dapat memahami ontologi, epistemologi dan aksiologi dari pengetahuan yang sedang dipelajari.
- Guru kurang peka terhadap perkembangan teknologi yang menjadi tuntutan dalam pembelajaran abad 21. Di Abad 21 ini guru ditantang untuk dapat menyesuaiakn diri dengan perkembangan tekonologi termasuk dalam pembelajaran.
- Penilaian yang dilakukan guru memerlukan waktu yang banyak karena biasanya masih mengandalkan paper and pencil test. Hal ini karena hasil jawaban siswa masih dikoreksi secara manual, idealnya apalagi untuk jumlah item soal dan peserta yang banyak ini bisa dilakukan dengan sistem digital misalkan yang berbasis komputer atau online.
- Pengembangan instrumen yang dilakukan atau dirancang kadang hanya berfokus pada bentuk pilihan ganda yang keandalannya belum teruji. Pilihan ganda selalu dipilih karena mudah menganalisisnya meskipun kadang mengabaikan tuntutan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Bentuk Pilihan ganda baik jika diracang dan diuji kevalidannya dengan baik. Instrumen penilaian yang digunakan idealnya dirancang dengan baik dan diuji keandalananya (validitas dan reliablitas) sehingga layak digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik.
- Instrumen tes yang biasa diberikan pada peserta didik (peserta tes) biasanya dibuat secara umum, tanpa mempertimbangkan jenjang kemampuan peserta didik. Idealnya, tes yang digunakan harus yang dapat mengungkap kesulitan mahasiswa, dan berjenjang mulai dari tuntutan berpikir tingkat rendah ke tingkat tinggi (Adaptive Test )